An Indonesian-English blog, sharing review of children's books.
Apakah hari ini cuacanya cukup bersahabat di kota Anda? Hari Minggu ini, Sabio masih merayakan berakhirnya ujian tengah semester, begitu juga Mama. Seminggu kemarin kami benar-benar berusaha sebaik mungkin untuk fokus ke ujian Sabio. Karena di masa PJJ ini (Pembelajaran Jarak Jauh), entah kenapa tugas sekolah terasa tidak ada habisnya. Semoga COVID-19 segera dapat ditaklukkan sehingga anak-anak bisa segera belajar kembali di sekolah dengan aman.
Oya, postingan ini akan diketik dalam Bahasa Indonesia yang sebaik mungkin dan sebenar mungkin agar mudah diterjemahkan. Maaf karena tidak menulisnya juga dalam Bahasa Inggris kali ini.
Mama ingin mulai berbagi bagaimana foto-foto buku untuk review di akun Instagram @sabioandmom diambil. Rasanya ingin berbagi saja, siapa tahu ada yang terinspirasi atau memberi inspirasi? Konon, orang akan bertambah pintar jika ia mengajari orang lain atau berbagi ilmunya dengan orang lain :). Fotografernya @sabioandmom juga masih perlu banyak belajar hehehe..
Buku pertama yang akan Mama bagikan behind-the-scenesnya, yaitu Batmouse. Di bawah ini adalah postingan di akun Instagram @sabioandmom.
Fotonya terlihat sederhana saja kan ya? Ada dua tali yang disilang dengan latar belakang kuning, dan difoto lainnya ada sedikit silau sinar matahari dan bayangan korden. Lebih minimalis daripada konsep foto awal yang Mama pikirkan. Tadinya, Mama akan menggunakan enam buah tali tas. Ya, itu tali tas...
Untuk pemotretan buku ini, properti foto yang digunakan, antara lain:
2 buah tas, dari 6 buah tas yang disiapkan (tiga tas milik Mama dan tiga tas lainnya milik neneknya Sabio),
beberapa lembar kertas origami berwarna kuning
1 lembar PVC cardboard berwarna putih
Selotip
1 buah meja kecil
Meja bermain milik Sabio ditaruh di "U-turn" tangga dekat jendela tinggi. Pencahayaan alami di jendela ini paling bagus sekitar jam 3 sore karena menghadap ke barat. Dan, jendelanya tidak menggunakan korden blackout, hanya filtrase, sehingga cahaya yang masuk cukup banyak. Kadang-kadang akan ada bayangan corak bunga dari filtrase. Minusnya lokasi ini, tempatnya cukup berbahaya. Biasanya Mama akan menaruh meja di anak tangga yang lebih rendah dan mepet dinding, mengganjal satu kaki meja yang menggantung dengan boks/buku. Anak tangga di bagian "U-turn" ini bentuknya segitiga siku-siku. Lalu, Mama akan memotret dari anak tangga yang lebih tinggi menghadap ke jendela, tidak menghadap turunan tangga. Kalau cahayanya sangat terang, posisi meja akan naik satu anak tangga, dan Mama akan memotret menghadap dinding. Sinar dari jendela akan menerangi sisi kiri buku.
Di atas meja, diletakkan PVC cardboard yang telah ditutup sebagian dengan kertas origami kuning. Prinsip properti foto @sabioandmom adalah memakai barang yang sudah ada atau seekonomis mungkin. Kalau ada dana lebih, kayaknya lebih baik dialokasikan untuk membeli buku lagi. Kebetulan stok kertas karton kuning sudah dipakai untuk tugas sekolah Sabio.
Penampakan sebenarnya ternyata begitu ya? Hehehe... Rata-rata foto @sabioandmom diambil berasio 1:1 dengan teknik flatlay, latar belakang yang dipakai juga lumayan hemat.
Seperti inilah hasil foto menggunakan 6 buah tali tas, menurut Mama kurang rapi. Tali tasnya ada yang rata, ada yang bergelombang. Padahal maunya Mama sih, supaya jumlah talinya bisa sama dengan tali-tali sayap yang terikat di tubuh Pip. Rupanya, dua tali tas saja sudah cukup.
Nah, sebelum diunggah, Mama akan mengecek dulu tone-nya di handphone Mama yang layarnya tidak terlalu hangat. Handphone utama Mama layarnya lebih detil tapi tone-nya terlalu hangat. Jika ada yang perlu diperbaiki, Mama lebih suka mengedit langsung di Instagram.
Hm..ternyata lumayan panjang juga ya postingan berbagi behind-the-scenes perdana @sabioandmom. Semoga bermanfaat ^-^!
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
written by Watik Ideo illustrated by Luluk Nailufar Paperback
Di awal "musim" Korona, Mama menemukan buku ini di IG secara nggak sengaja. Berisi pengetahuan dasar untuk anak-anak mengenai Korona termasuk cara mencegah terjangkit virus Korona. Ilustrasinya lucu plus ada bonus poster cara mencuci tangan dan lembar mewarnai. Berguna banget buat mengingatkan Sabio tentang cara pencegahan Korona tanpa harus dianggap cerewet hehehe...
Sebenarnya buku ini nggak cuma 1, masih ada cerita-cerita selanjutnya mengenai si Korona dan cara bersosialisasi agar si Korona nggak semakin menyebar. Sampai sekarang sudah ada 10 buku.
Buku pertama bisa diakses di website covid19.go.id sedangkan versi Bahasa Inggris buku pertama dan cerita lengkap si Korona bisa dibaca di akun Instagram (@)watikideo. Versi cetaknya dapat dibeli di Ideokids.
🔴
At the beginning of the Corona "season", Mom coincidentally found this book on IG. Contains basic knowledge for children about Corona including how to prevent Covid19. The illustrations are cute plus there is a bonus poster about how to wash hands and a coloring sheet. It's very useful for reminding Sabio about how to prevent Corona without having to be considered fussy ha-ha...
Actually the story of Corona is not just 1 book, there are still further stories about the Corona and how to socialize safely so that the Corona will not spread more. Until now, there are 10 books in total.
The first book can be accessed on the website covid19.go.id while the English version of the first book and the complete story of the Corona can be read on (@)watikideo Instagram feed. You can also buy the printed version at Ideokids.
Info: bought at IG ideokids.edugames
Originally posted on IG on June 19th, 2020.
Remember to wash your hands before eating :)
Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
by Lydia Monks published by Penerbit Erlangga ISBN: 9789790758049 *Indonesian edition
Apakah ada sarang laba-laba di rumahmu? Apakah kamu pernah bertemu dengan pemiliknya? Kira-kira jika ia bisa berbicara, apa yang akan hewan berkaki 8 itu katakan padamu? Mungkin saja seperti temannya di buku ini.
Seekor laba-laba tak habis pikir mengapa penghuni rumah yang ia tempati, sangat takut kepadanya. Padahal ia ingin tinggal bersama mereka, ia bahkan ingin menjadi peliharaan mereka.
Si laba-laba sangatlah mandiri, mulai dari membangun sarang hingga mencari makan, semua dapat ia lakukan sendiri. Ia pun tak buang kotoran layaknya hewan peliharaan milik para penghuni rumah tersebut. Tapi lagi-lagi penghuni rumah itu berteriak setiap melihat dirinya, merusak sarangnya, dan melemparnya ke halaman.
Mama sering terheran-heran bagaimana seorang penulis buku anak menemukan ide cerita, sesuatu yang sederhana dapat disulap menjadi cerita yang lucu dan unik. Seperti buku ini, Sabio dan mama sama sekali ga pernah kepikiran deh memelihara laba-laba rumahan yang kecil dan rapuh itu.
🕸️
Is there a cobweb in your house?
Have you ever met the owner?
If he could talk, what would the 8-legged animal tell you?
Maybe he would ask the same thing as his friend in this book.
A spider couldn't understand why the occupants of the house he lived were so afraid of him. Even though he wanted to live with them, to be their pet.
The spider was very independent, from building a nest to finding food, all he could do himself. He was cleaner than the other pets belonging to the occupants of the house. But again that family screamed every time they saw him, broke his nest, and threw him into the yard.
Mom often wonders how a children's author find a story idea, something simple can be transformed into a funny and unique story, just like this book. Sabio and Mom never thought about having a small & fragile house spider as a pet.
Info: from Sabio's cousins
Originally posted on IG on July 11th, 2020.
Have you seen any spider today at your home?
Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
Menemukan edisi Bahasa Indonesia dari buku bergambar karya penulis internasional rasanya juga seperti menemukan harta karun. Contohnya buku ini yang tak diduga-duga mama temukan di salah satu toko buku online. Pucuk dicinta ulam tiba, buku ini sudah lama ada di wishlist sabioandmom.
Baik cerita maupun ilustrasinya sangat klasik dan dreamy. Bercerita tentang kesibukan pekerja dan penumpang kereta uap di malam hari. Berbeda dari kereta pada umumnya. Kereta ini berisi mainan, makanan, mobil-mobil balap, dan hewan-hewan yang rajin. Bahkan gerbong belakangnya berupa tempat tidur empuk untuk para hewan yang beristirahat. Buku ini sangat tepat dibacakan sebelum tidur.
🚂
Finding the Indonesian edition of a picture book by international authors is also like finding a treasure. Just in the nick of time, Mom unexpectedly found this book in an online bookstore. It had been on Sabioandmom's wishlist for a long time.
Both the story and the illustrations are classic and dreamy. Tells the story of busy workers and steam train passengers at night. Different from trains in general, this train contains toys, food, race cars, and industrious animals. In fact, the rear carriage is a soft bed for resting animals. This book is very appropriate to read before bed.
Info: bought at Bukukita.com
This review was posted on Instagram on July 23rd, 2020.
How many times have you taken the train this year?,
Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
Original title: 동동이와 원더마우스2 (Wonder Mouth 2) by Cho Seung Hye published by Penerbit Kesaint Blanc Paperback ISBN: 9786024770563 *Indonesian edition (bilingual Indonesian-English)
Have you heard about Dudo? Or Dongdong and his wonder mouth? Why was his mouth called a wonder mouth? It wasn't without reason. Dudo's mouth was very quick and skillful, and sometimes could be very independent.
In this 2nd book, the story began when Dudo, who apparently had been in harmony with his mouth, exclaimed that he was free, as his happy expression after holiday announcement by his teacher. Instantly, Dudo's mouth flew far away undetected. It was also freeing itself. Yeah, it happened again!
Fortunately, Dudo had a Twinkle account, where he posted an announcement about his ran away mouth. With the helps from people in that social media, Dudo was able to track his mouth. He chased it in a hurry with a skateboard, then by bus, by truck, by hiking, by canoing, by paragliding. On the other side, his skillful mouth enjoyed its own adventures, having a great holiday.
Sabio read this book and the first book very quickly. As Mom remembers, he read both while waiting for his food at the restaurant.
Likewise Dudo's first story, the storyline of this 2nd book is also very entertaining and surprising. It feels more modern because of the use of smartphone and social media.
🦆🦆
Pernahkah kamu mendengar tentang Dudo? Atau Dongdong dan mulut ajaibnya? Mengapa mulutnya disebut mulut ajaib? Bukan tanpa alasan. Mulut Dudo sangat cepat dan terampil, dan terkadang bisa sangat mandiri.
Di buku ke-2 ini, cerita bermula ketika Dudo yang rupanya sempat bersatu kembali dengan mulutnya berseru bahwa dirinya kini bebas. Itu adalah ungkapan bahagia Dudo usai pengumuman liburan oleh gurunya. Seketika, mulut Dudo terbang jauh tanpa terdeteksi. Mulutnya juga membebaskan diri. Ya, itu terjadi lagi!
Untungnya, Dudo memiliki akun Twinkle, di mana dia memposting pengumuman tentang mulutnya yang kabur. Dengan bantuan orang-orang di media sosial tersebut, Dudo bisa melacak jejak si mulut. Dia mengejarnya dengan secepat mungkin menggunakan skateboard, lalu dengan bus, dengan truk, dengan mendaki gunung, dengan kano, dengan paralayang. Di sisi lain, si mulut yang terampil melakukan petualangannya sendiri, menikmati liburan yang menyenangkan.
Sabio membaca buku ini dan buku pertama Dudo dengan sangat cepat. Seingat Mama, dia membaca keduanya sambil menunggu makanan di restoran.
Begitu juga cerita pertama Dudo, jalan cerita buku ke-2 ini juga sangat menghibur dan mengejutkan. Terasa lebih modern karena penggunaan smartphone dan media sosial.
Info: bought at Gramedia
This review was posted on Instagram on April 3rd, 2020.
Can you sing "Twinkle, Twinkle, Little Star"?
Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
by Cho Seung Hye published by Penerbit Kesaint Blanc Paperback ISBN: 9786024770556 *Indonesian edition (bilingual)
Whenever his mom remind him to do something, Dudo always answers promptly. But, only his mouth which responses very quickly, Dudo himself is reluctantly doing what his mom said. Until one day, his mouth suddenly starts to do all Dudo activities by itself. It's very quick and skillful, more than Dudo.
Shocked by the actions, Dudo tries to get his mouth back. He distresses without it. Every statement that he makes would first be done by his mouth. Looks like, it flies away in a lightning speed.
This story is very amusing. It's uncommon and imaginative with a familiar background story. Mom thinks even some grown-ups can relate to its background story as their childhood story, replied nicely to mothers but often delayed to do the things.
Mom was very happy to find this book and its sequel at the bookstore. Dudo's story was perfect for Sabio. He likes fable, soccer, chitchat, and boyish story. And, he still prefers a picture book than a chapter book. Unless, the chapter book has some illustrations in it.
Sabio read this book by himself at first. Sabio and Mom feel sorry for Dudo. Apart from that, Sabio and Mom can't help to laugh everytime we read the book. It's so hilarious.
🦆
Kapanpun ibunya mengingatkannya untuk melakukan sesuatu, Dudo selalu menjawab dengan sigap. Tapi, hanya mulutnya yang merespon sangat cepat, Dudo sendiri enggan melakukan apa yang dikatakan ibunya. Hingga suatu saat, mulutnya tiba-tiba mulai melakukan semua aktivitas Dudo dengan sendirinya. Dengan sangat cepat dan terampil, lebih dari Dudo.
Terkejut melihat semua itu, Dudo mencoba untuk mendapatkan kembali mulutnya. Dia merasa tertekan tanpanya. Setiap pernyataan yang dia buat pertama-tama akan dilakukan langsung oleh mulutnya. Sepertinya, ia terbang secepat kilat.
Cerita buku ini sangat lucu. Tidak biasa dan imajinatif dengan latar belakang yang familiar. Menurut Mama, bahkan beberapa orang dewasa dapat mengaitkan cerita latar belakangnya dengan kisah masa kecil mereka, menjawab dengan baik kepada ibu mereka tetapi sering menunda untuk melakukan sesuatu.
Mama sangat senang menemukan buku ini dan sekuelnya di toko buku. Kisah Dudo sangat cocok untuk Sabio. Dia suka dongeng, sepak bola, obrolan, dan cerita kekanak-kanakan. Dan, Sabio masih lebih memilih buku bergambar daripada chapter book. Kecuali, chapter book-nya memiliki beberapa ilustrasi di dalamnya.
Sabio membaca buku ini sendiri duluan. Sabio dan Mama merasa kasihan pada Dudo. Selain itu, Sabio dan Mama tidak bisa menahan tawa setiap membaca buku ini. Sangat lucu!
Info: bought at Gramedia
This review was posted on Instagram on February 4th, 2020.
Do you like soccer?,
Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
by Mike Curato published by Henry Holt and Company, LLC Hardback ISBN: 9780805098266
Little Elliot, the polka-dotted elephant, woke up at a bright winter day. His friend, Mouse would had a big family reunion that day.
After Mouse left, Elliot's house suddenly felt quiet and empty. Elliot went outside to spend his time, but he saw many families in the street, in the train, at the park, at the restaurant, and in ice skating rink. Little Elliot who was all alone in that city before he met Mouse, once again had to cope with loneliness. He wondered how it feels to have a big family, how it feels to have a real family. Even a cute elephant like Elliot could feel lonely, but it was only a matter of time when he would meet his consolation. A new big family.
Likewise the previous book "Little Elliot, Big City", this title also has that longing and a little gloomy atmosphere, yet heartwarming. The colour palettes and other elements illustrations are a bit dark, contrasted to Elliot and Mouse who both are painted white and so cute.
Elliot's story matches Sabio's preferences a lot. Sabio loves a story which features animals, especially cute animal, lion, tiger, and/or T-rex.
🐘 🍿
Elliot kecil, gajah berbintik-bintik, bangun tidur pada suatu hari di musim dingin yang cerah. Temannya, Mouse akan mengadakan reuni keluarga besar hari itu.
Setelah Mouse pergi, rumah Elliot tiba-tiba terasa sunyi dan kosong. Elliot pergi ke luar untuk menghabiskan waktunya, tetapi dia melihat banyak keluarga di jalan, di kereta, di taman, di restoran, dan di arena seluncur es. Elliot kecil yang sendirian di kota itu sebelum dia bertemu Mouse, sekali lagi harus mengatasi rasa sepi. Dia bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki keluarga besar, bagaimana rasanya memiliki keluarga sejati. Bahkan seekor gajah lucu seperti Elliot bisa merasakan kesepian, tetapi hanya masalah waktu ketika dia akan bertemu pelipur hatinya. Keluarga besar yang baru.
Seperti buku sebelumnya "Little Elliot, Big City", judul ini juga memiliki suasana kerinduan dan sedikit suram, namun menghangatkan hati. Palet warna dan ilustrasi elemen lainnya agak gelap, kontras dengan Elliot dan Mouse yang keduanya berwarna putih dan sangat lucu.
Kisah Elliot sangat cocok dengan preferensi Sabio. Sabio menyukai kisah yang menampilkan hewan, terutama hewan yang imut, singa, harimau, dan/atau T-rex.
Originally posted on Instagram on May 13th, 2020
Info: bought at Big Bad Wolf Book Sale
How many family do you have? Have you ever counted them? Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.
written by Kartika Eka Putri illustrated by Jaka Nur Sukma published by PT IMAJI Media Pustaka ISBN: 9786029260649 *A bilingual Indonesian-English book
Buku ini Mama temukan setelah mengubek-ubek deretan buku anak di rak terbawah di toko buku. Karena toko bukunya jauh dari rumah, Mama bisa sedih kalau nggak dapat buku cerita bergambar buat Sabio. Jadi, harus rajin memeriksa buku di setiap rak bagian buku anak.
Galih adalah seekor Gajah di kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Saat hendak membantu mengambilkan sekumpulan balon milik seorang anak, tiba-tiba saja Galih terbang ke langit, terbawa balon-balon yang tertiup angin. Ia mendarat di tengah kota Yogyakarta. Walaupun Galih terlihat sangat berbeda dari para manusia, ia tak patah arang ataupun berkecil hati. Dengan tenang, Galih mencari jalan pulang sambil tak lupa membantu orang-orang di sekitarnya.
Membaca cerita ini seperti bernostalgia akan suasana kota Yogyakarta. Mama jadi ingin jalan-jalan di Malioboro dan makan Gethuk. Sabio pun teringat masa liburannya di kota Gudheg itu tahun lalu.
Buku yang merupakan hasil karya pemenang kompetisi menulis buku anak yang diadakan oleh penerbit Imaji Kids ini memiliki ilustrasi imut yang rapi dengan palet warna yang kalem.
🐘🎈
Mama found this book after searching in a row of children's books on the lowest shelf in the bookstore. Because the bookstore was far from home, Mama could be sad if she couldn't get a picture book for Sabio. So, she had to be diligent in checking the books on each shelf of children's books section.
Galih is an elephant in the Gembira Loka zoo, Yogyakarta. When he is about to help a visitor to get his balloons back, suddenly Galih flies into the sky, carried by the balloons which are blown by the wind. Then, he lands in the middle of Yogyakarta city. Although Galih looks very different from humans, he is not giving up or discouraged. Calmly, Galih looks for a way home while not forgetting to help the people around him.
Reading this story is like reminiscing about the atmosphere of Yogyakarta. Mama wants to walk around Malioboro and eat Gethuk. Sabio also remembers his vacation in the city of Gudheg last year.
The book, which is the work of the winner of a children's book writing competition organized by the publisher,, has a neat and cute illustration with a calm color palette.
Originally posted on Instagram on February 25th, 2020
Info: bought at Gramedia
Have you been in Yogyakarta? Sabio and his Mom
Disclaimer:
All books and photos belong to Sabioandmom, unless stated otherwise.